55 Remaja Hindu ikuti Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Pasraman Prema Widya Shanti Kendari.
![]() |
| Penyuluh memberikan Bimbingan Remaja Usia Sekolah di Kendari |
KENDARI — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kendari melalui Penyuluh Agama Hindu bersama Kemenag Konawe Selatan (Konsel) sukses menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan yang diikuti oleh 55 siswa beragama Hindu tingkat SMA/SMK ini berlangsung khidmat dan antusias di Ruang Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS) Provinsi Sulawesi Tenggara, Gedung Bhisma, Sekretariat Bersama Lembaga Hindu Sultra, Kompleks Pura, Kadia, Kendari.
Kegiatan ini dimotori oleh Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Kendari, Pande Kadek Juliana, bersama Penyuluh Agama Hindu Kemenag Konsel, Hariono. Terselenggara atas kerja sama dengan Kelompok Sasaran Penyuluh, Pasraman Prema Widya Shanti Kendari, program ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif yang berkelanjutan bagi remaja Hindu.
Dalam sambutannya, para penyuluh menekankan bahwa masa remaja merupakan fase Brahmacari Asrama—sebuah periode sakral yang krusial untuk menuntut ilmu, mengendalikan gejolak nafsu (indriya nigraha), serta membangun pondasi karakter berbasis dharma. Namun, kompleksitas tantangan zaman modern seperti pergaulan bebas dan desakan sosial sering kali menjerumuskan remaja ke dalam lingkaran perkawinan anak yang prematur.
Dalam pandangan Hindu, melompati tatanan hidup ini tanpa kesiapan fisik, mental, dan spiritual diibaratkan memetik buah yang masih mentah. Hal tersebut dapat merusak kesucian Pawiwahan (pernikahan) dan mengancam ketahanan keluarga. Tanpa kematangan emosional serta pemahaman nilai kesabaran (ksama) dan kasih sayang (maitri), rumah tangga usia dini sangat rentan terjebak dalam konflik berulang hingga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Hadirnya BRUS menjadi instrumen vital untuk memperkokoh ketahanan keluarga sejak dini. Melalui edukasi holistik yang memadukan kesehatan reproduksi dengan etika Hindu, program ini membimbing remaja agar menuntaskan masa Brahmacari dengan sempurna sebelum melangkah ke jenjang Grahasta Asrama (kehidupan berumah tangga).
Kesadaran ini tidak hanya menjadi benteng utama pencegahan perkawinan anak, tetapi juga langkah strategis menekan angka kematian ibu dan bayi serta risiko stunting. Dengan kematangan biologis dan psikologis, calon orang tua di masa depan mampu melahirkan dan mengasuh keturunan yang berkualitas (Suputra).
Melalui penanaman ikatan keluarga sebagai bentuk pengabdian luhur (Yajna), BRUS optimis dapat mencetak benih generasi muda yang tangguh, bertanggung jawab, serta mampu mewujudkan keharmonisan dan kesejahteraan rumah tangga ke depannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar